
Michael H. Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai
tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart,
Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan
luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa
yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang
bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran
Nabi Muhammad termasuk dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang
berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan bagi kelom[ok manusia
tertentu dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Nabi Muhammad
satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses
luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan
menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan
pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen,
dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih
tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Muhammad bin ‘Abdullāh (Arab:
محمد بن عبد الله; Transliterasi:
Muḥammad;
Templat:IPA-ar; (ca. 570/571 Mekkah[مَكَةَ ]/[ مَكَهْ ] – 8 Juni, 632
Medina), adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim
sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir. Menurut biografi tradisional
Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut sirah), ia lahir diperkirakan
sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah (“Makkah”) dan wafat pada 8 Juni
632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab
Saudi saat ini).
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini
merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat
peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik
bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di
bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu
merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat
perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur
enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah
hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta
huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima
tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun,
sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk
keluarbiasaannya sebagai manusia.
“Muhammad” dalam bahasa Arab berarti “dia yang terpuji”. Muslim
mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah
penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.
Mereka memanggilnya dengan gelar
Rasul Allāh (رسول الله), dan menambahkan kalimat
Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam
(صلى الله عليه و سلم, yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan
dan keselamatan kepadanya”; sering disingkat “S.A.W” atau “SAW”) setelah
namanya. Selain itu Al-Qur’an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut
Muhammad dengan nama “
Ahmad” (
أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji”.
Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (
Quraish)
bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah
(Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan. Dimana Adnan
merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dari Ismail bin Ibrahim, yaitu
keturunan Sam bin Nuh. Muhammad lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal
tahun 571 Masehi (lebih dikenal sebagai
Tahun Gajah).
Riwayat
Kelahiran
Para penulis
sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat
bahwa ia lahir di Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M. Muhammad lahir di
kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat yang ketika
itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat
perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abdullah, meninggal
dalam perjalanan dagang di Yatsrib, ketika Muhammad masih dalam
kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan
seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh
Nabi.
Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab
mengajaknya ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta
mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh
sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa’ yang
terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana. Setelah ibunya
meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, ‘Abd al-Muththalib. Setelah
kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah
ia diminta menggembala kambing-kambingnya disekitar Mekkah dan kerap
menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah, Libanon
dan Palestina).
Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Muhammad lahir
di bulan Rabiulawal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya.
Di kalangan Syi’ah sesuai dengan arahan para Imam yang merupakan
keturunan langsung Muhammad, menyatakan bahwa ia lahir pada hari Jumat,
17 Rabiulawal; sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa ia lahir pada
hari Senin, 12 Rabiulawal atau (2 Agustus 570M).
Berkenalan dengan Khadijah
Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari
ilmu
bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah
keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum
dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil.
Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan secepatnya
tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam membawa
bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen
penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.
Seseorang yang telah mendengar tentang anak muda yang sangat
dipercaya dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia adalah
seseorang yang memiliki status tinggi di suku Arab dan Khadijah sering
pula mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab.
Reputasi Muhammad membuatnya terpesona sehingga membuat Khadijah
memintanya untuk membawa serta barang-barang dagangannya dalam
perdagangan. Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan
Khadijah sangat terkesan dengan sekembalinya Muhammad dengan
keuntungan yang lebih dari biasanya.
Akhirnya, Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah kemudian mereka
menikah. Pada saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah
mendekati umur 40 tahun, tetapi ia masih memiliki kecantikan yang
menawan. Perbedaan umur yang sangat jauh dan status janda yang dimiliki
oleh Khadijah, tidak menjadi halangan bagi mereka, karena pada saat itu
suku Quraisy memiliki adat dan budaya yang lebih menekankan perkawinan
dengan gadis ketimbang janda. Walaupun harta kekayaan mereka semakin
bertambah, Muhammad tetap sebagai orang yang memiliki gaya hidup
sederhana, ia lebih memilih untuk mendistribusikan keuangannya kepada
hal-hal yang lebih penting.
Memperoleh gelar
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia bersatu dengan orang-orang
Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara
mereka tentang peletakan Hajar al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia
sangat masyhur di antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji.
Kaumnya sangat mencintai beliau, hingga akhirnya beliau memperoleh gelar
Al-Amin yang artinya Orang yang dapat Dipercaya.
Diriwayatkan pula bahwa Muhammad percaya sepenuhnya dengan ke-Esaan
Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat
angkuh dan sombong. Ia menyayangi orang-orang miskin, para janda dan
anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong
mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang biasa di kalangan
bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras,
berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai
As-Saadiq yang memiliki arti Yang Benar.
Kerasulan
Gua Hira tempat pertama kali Muhammad memperoleh wahyu
Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang
senang dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang
ke-40, ia sering menyendiri ke Gua Hira sebuah gua bukit sekitar 6 km
sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai
Jabal An Nur.
Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana dan sikapnya itu
dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut
dan di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada
Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.
Pada suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611, ketika
Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira’, Malaikat Jibril mendatanginya.
Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia
diminta membaca. Ia menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Jibril
mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya
tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:
| “ |
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu
yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis,
membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5) |
” |
Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu
ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah
(penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut
perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah
pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut, dengan rasa ketakutan dan
cemas Muhammad pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah untuk
menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin
secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan pengalamannya
kepada sang istri.
Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad
mendatangi saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak
mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen
dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata,
bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian
Waraqah menyebutkan bahwa
An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril)
telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu,
mereka akan memusuhi dan melawannya.
Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23
tahun. Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan
Muhammad, dan dikumpulkan dalam kitab bernama
Al Mushaf yang juga dinamakan
Al- Qurʾān
(bacaan). Kebanyakan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas, sedangkan
sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain.
Sebagian ayat-ayat adapula yang diterjemahkan oleh Muhammad sendiri
melalui percakapan, tindakan dan persetujuannya, yang terkenal dengan
nama As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah digabungkan bersama merupakan
panduan dan cara hidup bagi “mereka yang menyerahkan diri kepada
Allah”, yaitu penganut agama Islam.
Mendapatkan pengikut
Selama tiga tahun pertama, Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas
kepada teman-teman dekat dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka yang
percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya
serta golongan masyarakat awam, antara lain Khadijah,
Ali,
Zaid bin Haritsah dan
Bilal. Namun pada awal tahun
613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama
Islam. Banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar,
Utsman bin Affan,
Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf,
Ubaidah bin Harits,
Amr bin Nufail masuk Islam dan bergabung membela Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan
As-Sabiqun al-Awwalun.
Akibat halangan dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah, sebagian orang
Islam disiksa, dianiaya, disingkirkan dan diasingkan. Penyiksaan yang
dialami hampir seluruh pengikutnya membuat lahirnya ide berhijrah
(pindah) ke Habsyah.
Negus,
raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya
dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah. Muhammad
sendiri, pada tahun
622 hijrah ke Madinah, kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.
Hijrah ke Madinah
Di Mekkah terdapat
Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi
Ibrahim.
Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka’bah dalam
suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai
tradisi
keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang
ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan
seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti
nama menjadi
Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama
Aqabah
secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah
untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam
Mekkah.
Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang
lagi ke Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu
sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum
menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka
mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yathrib.
Muhammad akhirnya setuju untuk berhijrah ke kota itu.
Mengetahui bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah,
masyarakat jahiliyah
Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan bahwa bila
dibiarkan berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan mendapat peluang
untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain. Setelah
berlangsung selama kurang lebih dua bulan, masyarakat Islam dari Mekkah
pada akhirnya berhasil sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian
dikenal sebagai Madinah atau “Madinatun Nabi” (kota Nabi).
Di
Madinah,
pemerintahan (kalifah) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad.
Umat Islam bebas beribadah (shalat) dan bermasyarakat di Madinah.
Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian melancarkan beberapa
serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi oleh umat Islam.
Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak Quraish. Walaupun
demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish dengan
cara menyerang sekutu umat Islam.
Penaklukan Mekkah
Pada tahun ke-8 setelah berhijrah ke Madinah, Muhammad berangkat
kembali ke Makkah dengan pasukan Islam sebanyak 10.000 orang. Penduduk
Makkah yang khawatir kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa
perlawanan, dengan syarat Muhammad kembali pada tahun berikutnya.
Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ia kembali maka
ia menaklukkan Mekkah secara damai. Muhammad memimpin umat Islam
menunaikan ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling
Ka’bah, dan kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan
agama Islam di kota Mekkah.
Sejumput Akhlak Rasulullah
Dikemukakannya beberapa contoh Akhlaq yang mulia Sayyidina
AL-MUSHTHOFA, Muhammad saw adalah agar kita mengetahui dan mencontohnya
dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari. Sejarah menjadi saksi
bahwa semua kaum di Arab sepakat memberikan gelar kepada Muhammad saw
“Al-Amin”, artinya orang yang terpercaya, padahal waktu itu beliau belum
dinyatakan sebagai Nabi. Peristiwa ini, belum pernah terjadi dalam
sejarah Mekkah dan Arabia. Hal itu menjadi bukti bahwa Rasulullah saw
memiliki sifat itu dalam kadar begitu tinggi sehingga dalam pengetahuan
dan ingatan kaumnya tidak ada orang lain yang dapat dipandang menyamai
dalam hal itu. Kaum Arab terkenal dengan ketajaman otak mereka dan
apa-apa yang mereka pandang langka, pastilah sungguh-sungguh langka lagi
istimewa.
Diriwayatkan tentang Rasulullah saw bahwa segala tutur kata beliau
senantiasa mencerminkan kesucian dan bahwa beliau (tidak seperti
orang-orang kebanyakan di zaman beliau) tidak biasa bersumpah
(Turmudzi). Hal itu merupakan suatu kekecualian bagi bangsa Arab. Kami
tidak mengatakan bahwa orang-orang Arab di zaman Rasulullah saw biasa
mempergunakan bahasa kotor, tetapi tidak pelak lagi bahwa mereka biasa
memberikan warna tegas di atas tuturan mereka dengan melontarkan
kata-kata sumpah dalam kadar yang cukup banyak, suatu kebiasaan yang
masih tetap berlangsung sampai hari ini juga. Tetapi Rasulullah saw
menjunjung tinggi nama Tuhan sehingga beliau tidak pernah mengucapkan
tanpa alasan yang sepenuhnya dapat diterima
Beliau sangat memberikan perhatian, bahkan cermat sekali dalam soal
kebersihan badan. Beliau senantiasa menggosok gigi beberapa kali sehari
dan begitu telaten melakukannya sehingga beliau biasa mengatakan bahwa
andaikata beliau tidak khawatir kalau mewajibkannya akan memberatkan,
beliau akan menetapkan menjadi kewajiban untuk tiap-tiap orang muslim
menggosok gigi sebelum mengerjakan kelima waktu sholat. Beliau
senantiasa mencuci tangan sebelum dan sesudah tiap kali makan, dan
desudah makan beliau senantiasa berkumur dan memandang sangat baik
tiap-tiap orang yang telah memakan masakan berkumur lebih dahulu sebelum
ikut bersembahyang berjamaah (Al-Bukhori)
Dalam peraturan Islam, masjid itu satu-satunya tempat berkumpul yang
ditetapkan untuk orang-orang Islam. Oleh karena Rasulullah saw sangat
istimewa menekankan kebersihannya, terutama pada saat orang-orang
diharapkan akan berkumpul di dalamnya. Beliau memerintahkan supaya pada
kesempatan-kesempatan itu sebaiknya setanggi dsb dibakar untuk
membersihkan udara (Abu Daud). Beliau juga memberi petunjuk jangan ada
orang pergi ke masjid saat diadakan pertemuan-pertemuan sehabis makan
sesuatu yang menyebarkan bau yang menusuk hidung (Al-Bukhori).
Beliau menuntut agar jalan-jalan dijaga kebersihannya dan tidak ada
dahan ranting, batu dan semua benda atau sesuatu yang akan mengganggu
atau bahkan membahayakan. Jika beliau sendiri menemukan hal atau benda
demikian di jalan, beliau niscaya menyingkirkannya dan beliau sering
bersabda bahwa orang yang membantu menjaga kebersihan jalan-jalan, ia
telah berbuat amal sholih dalam pandangan Ilahi.
Diriwayatkan pula bahwa beliau memerintahkan supaya lalu-lintas umum
tidak boleh dipergunakan sehingga menimbulkan halangan atau menjadi
kotor atau melemparkan benda-benda yang najis, atau tidak sedap
dipandang ke jalan umum atau mengotori jalan dengan cara apapun, karena
semua itu perbuatan yang tidak diridhoi Tuhan. Beliau sangat memandang
penting upaya agar persediaan air untuk keperluan manusia dijaga
kebersihan dan kemurniannya. Umumnya, beliau melarang sesuatu benda
dilemparkan ke dalam air tergenang yang mungkin akan mencemarinya, dan
memakai persediaan air dengan cara yang dapat menjadikannya kotor
(Al-Bukhori dan Muslim, Kitabal-Barr wal-Sila)
Rasulullah saw sangat sederhana dalam hal makan dan minum. Beliau
tidak pernah memperlihatkan rasa kurang senang terhadap makanan yang
tidak baik masakannya dan tidak sedap rasanya. Jika didapatkannya
makanan sajian serupa itu, beliau akan menyantapnya untuk menjaga supaya
pemasaknya tidak merasa kecewa. Tetapi, jika hidangan tidak dapat
dimakan, beliau hanya tidak menyantapnya dan tidak pernah memperlihatkan
kekesalannya. Jika beliau telah duduk menghadapi hidangan, beliau
menunjukkan minat kepada makanan itu dan biasa mengatakan bahwa beliau
tidak suka kepada sikap acuh-tak-acuh terhadap makanan, seolah-olah
orang yang makan itu terlalu agung untuk memperhatikan hanya soal
makanan dan minuman belaka.
Jika suatu makanan dihidangkan kepada beliau, senantiasa beliau
menyantapnya bersama-sama semua yang hadir. Sekali peristiwa seseorang
mempersembahkan kurma kepada beliau. Beliau melihat ke sekitar dan
setelah beliau menghitung jumlah orang yang hadir, beliau membagi rata
bilangan kurma itu sehingga tiap-tiap orang menerima tujuh buah. Abu
Huroiroh ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah makan
sekenyang-kenyangnya, walaupun sekedar roti jawawut (Al-Bukhori).
Sekali peristiwa, ketika beliau melalui jalan tampak kepada beliau
beberapa orang berkumpul mengelilingi panggang anak kambing dan siap
untuk menikmati jamuan. Ketika mereka melihat Rasulullah saw mereka
mengundang beliau ikut serta, tetapi beliau menolak. Alasannya bukan
karena beliau tidak suka daging panggang, tetapi disebabkan oleh
kenyataan bahwa beliau tidak menyetujui orang mengadakan perjamuan di
tempat terbuka dan terlihat oleh orang miskin yang tak cukup mempunyai
makanan.
Tiap-tiap segi kehidupan Rasulullah saw nampak jelas diliputi dan
diwarnai oleh cinta dan bakti kepada Tuhan. Walaupun pertanggung-jawaban
yang sangat berat terletak di atas bahu beliau, bagian terbesar dari
waktu, siang dan malam dipergunakan untuk beribadah dan berdzikir kepada
Tuhan. Beliau biasa bangkit meninggalkan tempat tidur tengah malam dan
larut dalam beribadah kepada Tuhan sampai saat tiba untuk pergi ke
masjid hendak sembahyang subuh. Kadang-kadang beliau begitu lama berdiri
dalam sembahyang tahajjud sehingga kaki beliau menjadi
bengkak-bengkak, dan mereka yang menyaksikan beliau dalam keadaan
demikian sangat terharu. Sekali peristiwa Aisyah ra berkata kepada
beliau “Tuhan telah memberi kehormatan kepada engkau dengan cinta dan
kedekatan-Nya. Mengapa engkau membebani diri sendiri dengan menanggung
begitu banyak kesusahan dan kesukaran?” Beliau menjawab “Jika Tuhan,
atas kasih sayang-Nya, mengaruniai cinta dan kedekatan-Nya kepadaku,
bukankah telah menjadi kewajiban pada giliranku senantiasa menyampaikan
terima kasih kepada Dia? Bersyukurlah hendaknya sebanyak bertambahnya
karunia yang diterima (Kitabul-Kusuf)
Tuhan telah memberikan mata untuk melihat; maka bukan ibadah tetapi
aniaya kalau mata dibiarkan pejam atau dibuang. Bukan penggunaan
kemampuan melihat secara tepat yang dapat dipandang dosa, melainkan
penyalahgunaan daya itulah yang menjadi dosa…
Siti Aisyah meriwayatkan “Bilamana Rasulullah saw dihadapkan kepada
pilihan antara dua cara berbuat, beliau senantiasa memilih jalan yang
termudah, asalkan bebas dari segala kecurigaan bahwa itu salah atau
dosa. Kalau arah perbuatan itu membuka kemungkinan timbulnya kecurigaan
serupa itu, maka Rasulullah saw itulah orangnya, dari antara seluruh
umat manusia yang paling menjauhinya (Muslim, kitabul-Fadhoil)
Beliau sangat baik dan adil terhadap istri-istri sendiri. Jika, pada
suatu saat salah seorang di antara mereka tidak dapat membawa diri
dengan hormat yang layak terhadap beliau, beliau hanya tersenyum dan hal
itu dilupakan beliau. Pada suatu hari beliau bersabda kepada Siti
Aisyah ra, Aisyah jika engkau sedang marah kepadaku, aku senantiasa
dapat mengetahuinya” Aisyah ra bertanya “Bagaimana?” Beliau menjawab
“Aku perhatikan jika engkau senang kepadaku dan dalam percakapan kau
menyebut nama Tuhan, ‘Kau sebut Dia sebagai Tuhan Muhammad. Tetapi jika
engkau tidak senang kepadaku, ‘Kau sebut Dia sebagai Tuhan Ibrahim”
Mendengar keterangan itu Aisyah tertawa dan mengatakan bahwa beliau
benar”
Beliau senantiasa sangat sabar dalam kesukaran dan kesusahan., Dalam
keadaan susah, beliau tak pernah putus asa dan beliau tak pernah
dikuasai oleh suatu keinginan pribadi… Sekali peristiwa beliau menjumpai
seorang wanita yang baru ditinggal mati oleh anaknya, dan melonglong
dekat kuburan anaknya. Beliau menasehatkan agar bersabar dan menerima
taqdir Tuhan dengan rela dan menyerahkan diri. Wanita itu tidak
mengetahui bahwa ia ditegur oleh Rasulullah saw dan menjawab “Andaikan
engkau pernah mengalami sedih ditinggal mati oleh anak seperti yang
kualami, engkau akan mengetahui betapa sukar untuk bersabar di bawah
himpitan penderitaan serupa itu.” Rasulullah saw menjawab “Aku telah
kehilangan bukan hanya seorang tetapi tujuh anak”. Dan beliau terus
berlalu.
Beliau senantiasa dapat menguasai diri. Bahkan ketika beliau sudah
menjadi orang paling berkuasa sekalipun selalu mendengarkan dengan sabar
kata tiap-tiap orang, dan jika seseorang memperlakukan beliau dengan
tidak sopan, beliau tetap melayaninya dan tidak pernah mencoba
mengadakan pembalasan
Rasulullah saw mandiri dalam menerapkan keadilan dan perlakuan.
Sekali peristiwa suatu perkara dihadapkan kepada beliau tatkala seorang
bangsawati terbukti telah melakukan pencurian. Hal itu menggemparkan,
karena jika hukuman yang berlaku dikenakan terhadap wanita muda usia
itu, martabat suatu keluarga sangat terhormat akan jatuh dan terhina.
Banyak yang ingin mendesak Rasulullah saw demi kepentingan orang yang
berdosa itu, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka Usama diserahi
tugas melaksanakan itu. Usama menghadap Rasulullah saw, tetapi serentak
beliau mengerti maksud tugasnya itu, beliau sangat marah dan bersabda,
“Kamu sebaiknya menolak. Bangsa-bangsa telah celaka karena
mengistimewakan orang-orang kelas tinggi tetapi berlaku kejam terhadap
rakyat jelata. Islam tidak mengidzinkan dan akupun sekali-kali tidak
akan mengizinkan. Sungguh, jika Fathimah anak perempuanku sendiri
melakukan kejahatan, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang
adil “ (Al-Bukhori, Kitabul-Hudud)
Rasulullah saw senantiasa prihatin memikirkan untuk memperbaiki
keadaan golongan yang miskin dan mengangkat taraf hidup mereka di
tengah-tengah masyarakat. Seorang wanita muslimah biasa membersihkan
masjid Nabi di Madinah. Rasulullah saw tidak melihatnya lagi beberapa
hari dan beliau menanyakan ihwalnya. Disampaikan kepada beliau bahwa ia
sudah meninggal. Beliau bersabda, “Mengapa aku tidak diberi tahu kalau
ia meninggal? Aku pasti ikut dalam sembahyang janazahnya” dan
menambahkan. Barangkali kalian tidak memandangnya cukup penting karena
ia miskin. Anggapan itu salah. Bawalah aku ke kuburnya.” Kemudian beliau
pergi ke sana dan mendoa untuk dia (Al-Bukhori, Kitabus-Salat)
Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan jika seorang miskin menghadap
Rasulullah saw dan mengajukan permintaan, beliau biasa bersabda kepada
orang yang ada disekitar beliau, “Kemudian juga hendaknya memenuhi
permintaannya itu sehingga mendapat pahala sebagai orang yang berperan
serta dalam menggalakkan perbuatan baik’ (Al-Bukhori dan Muslim), dengan
tujuan membangkitkan rasa cenderung untuk menolong si miskin di satu
pihak dalam hati para sahabat dan dipihak lain menimbulkan kesadaran
dalam hati kaum fakir-miskin adanya cinta-kasih saudara-saudara mereka
yang kaya.
Ketika Islam berangsur-angsur diterima secara umum oleh bagian
terbesar bangsa Arab, Rasulullah saw sering menerima barang dan uang
berlimpah-limpah, beliau segera membagi-bagikan hadiah itu di antara
mereka yang sangat membutuhkan. Sekali peristiwa anak beliau, Fathimah
datang mendapatkan beliau sambil memperlihatkan tapak tangannya yang
tebal dan keras akibat pekerjaan menepung gandum dengan batu, memohon
agar diberi seorang budak untuk meringankan pekerjaannya. Rasulullah saw
menjawab, “Aku akan menceriterakan kepadamu sesuatu yang nanti akan
terbukti jauh lebih berharga daripada seorang budak. Jika engkau akan
tidur pada malam hari, engkau hendaknya membaca SubchanAllah 33 kali,
Al-chamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 34 kali. Hal itu akan jauh
lebih banyak menolongmu daripada memelihara seorang budak” (Al-Bukhori).
Beliau senantiasa menganjurkan kepada mereka yang mempunyai
budak-budak supaya memperlakukan mereka dengan baik serta kasih sayang.
Beliau menetapkan bahwa jika si pemilik memukul budaknya atau
memaki-makinya, maka satu-satunya perbaikan yang dapat dilakukannya
ialah memerdekakannya (Muslim, Kitabul-Iman).
Rasulullah saw sangat berhasrat memperbaiki keadaan wanita di
tengah-tengah masyarakat, menjamin mereka mendapat kedudukan terhormat
dan perlakuan wajar lagi pantas. Islam adalah agama pertama yang
memberikan hak waris kepada wanita
Jika dalam satu perjalanan beliau ada wanita-wanita yang ikut serta,
beliau senantiasa memberi petunjuk supaya kafilah bergerak lambat dan
berhenti-berhenti secara bertahab. Pada suatu kesempatan serupa itu
ketika orang-orang berjalan cepat, beliau bersabda “Perhatikan kaca!
Perhatikan kaca!” dengan maksud mengatakan bahwa ada wanita-wanita dalam
rombongan dan bahwa jika onta-onta dan kuda-kuda berlari cepat, mereka
itu akan menderita dari bantingan-bantingan binatang-binatang itu
(Al-Bukhori, Kitab Al-Adab)
Beliau menetapkan bahwa orang tidak boleh membicarakan keburukan
seseorang yang telah meninggal, melainkan hendaknya menekankan kepada
kebaikan apa saja yang dimiliki almarhum, sebab tidak ada faedahnya
menyebut-nyebut kelemahan atau kejahatan orang yang sudah meninggal.
Tetapi dengan mengemukakan kebaikan-kebaikan almarhum orang akan
cenderung mendoakan (Al-Bukhori).
Perlakuan Rasulullah saw terhadap tetangga dengan ramah dan penuh
perhatian; beliau sangat menekankan agar orang berbakti dan mengkhidmati
orang tua serta memperlakukan mereka dengan baik dan kasih-sayang;
beliau selamanya memilih pergaulan dengan orang-orang baik dan jika
melihat suatu kelemahan pada salah seorang dari para sahabat, beliau
menegurnya dengan ramah secara berempat mata; Rasulullah saw sangat
berhati-hati membawa diri agar tidak timbul kemungkinan adanya salah
faham; Beliau tidak pernah mengemukakan kesalahan-kesalahan dan
kelemahan-kelemahan orang lain dan menasehati orang-orang jangan
mengumumkan kesalahan-kesalahan sendiri; Kesusahan, penderitaan atau
kemalangan di saat menjelang wafat, beliau pikul dengan penuh kesabaran
sampai-sampai Fathimah ra tidak tahan melihat ayahnya dalam keadaan
demikian, namun beliau bersabda kepadanya: “Bersabarlah, ayahmu tidak
akan menderita lagi sesudah hari ini”;
Rasulullah saw menekankan agar para sahabat bekerja sama satu dengan
lainnya. Ketika seseorang mengadukan saudaranya yang bermalas-malasan,
beliau bersabda kepadanya: “Tuhan telah mencukupi kebutuhanmu berkat
adanya saudaramu, dan karena itu menjadi kewajibanmu mencukupi
kebutuhannya dan membiarkan dia bebas mengkhidmati agama” (Turmudzi).
Rasulullah saw dalam jual-beli secara terus terang dan sangat
mendambakan orang-orang muslim agar jangan melakukan kelicikan dalam
transaksi atau jual-beli. Beliau senantiasa optimis menghadapi masa
depan. Beliau sangat memusuhi sikap pesimis atau keputusasaan, Beliau
bersabda: “Siapa yang menyebarkan rasa pesimis di kalangan masyarakat,
ia bertanggung jawab atas kemunduran bangsa; sebab pikiran-pikiran
pesimis mempunyai kecenderungan mengecutkan hati dan menghentikan laju
kemajuan .
Rasulullah saw memperingatkan para sahabat agar memperlakukan
hewan-hewan dengan baik dan mengecam bersikap kejam terhadap hewan.
Beliau sering menceriterakan tentang wanita Yahudi yang dihukum Allah
swt lantaran membiarkan kucingnya mati kelaparan.
Rasulullah saw bukan saja menekankan pada kebaikan toleransi dalam
urusan agama, tetapi memberikan contoh-contoh yang sangat tinggi dalam
urusan ini. Suatu delegasi suku Kristen Najron yang telah berdialog
selama beberapa jam, meminta idzin untuk meninggalkan masjid untuk
mengadakan kebaktian di tempat yang tenang, Rasulullah saw bersabda:
“Mereka tidak perlu meninggalkan masjid yang memang merupakan tempat
khusus untuk kebaktian kepada Tuhan dan mereka dapat melakukan ibadah
mereka di situ (Az-Zurqani)
Keberanian Rasulullah saw luar biasa, ketika terjadi isu bahwa
pasukan Romawi akan mengadakan pendudukan di Madinah dan ketika ada
suara gaduh di tengah malam, beliau mengadakan penelitian sendiri dengan
menaiki kudanya. Beliau sangat lunak terhadap orang yang kurang sopan
terhadap beliau.
Rasulullah saw sangat menaruh penting ihwal asas menyempurnakan
perjanjian. Sekali peristiwa seorang duta datang kepada beliau dengan
tugas istimewa dan sesudah ia tinggal beberapa hari bersama beliau, ia
yakin akan kebenaran Islam dan mohon diperbolehkan bai’at masuk Islam.
Rasulullah saw menjawab bahwa perbuatannya itu tidak tepat karena ia
datang sebagai duta dan telah menjadi kewajibannya untuk pulang ke pusat
Pemerintahannya tanpa mengadakan hubungan baru, jika sesudah pulang ia
masih yakin akan kebenaran Islam, ia dapat kembali lagi sebagai orang
bebas dan masuk Islam .
Beliau sangat menghargai mereka yang membaktikan waktu dan harta
bendanya untuk menghidmati umat manusia. Suku Arab , Banu Tho‘i mulai
mengadakan permusuhan terhadap Rasulullah saw dan kekuatan mereka dapat
dikalahkan dan beberapa orang ditawan dalam sebuah peperangan. Seorang
dari tawanan itu adalah seorang anak perempuan Hatim, seorang yang
kebaikan dan kemurahannya telah menjadi buah bibir bangsa Arab. Ketika
anak Hatim menerangkan kepada Rasulullah saw mengenai silsilah
kekeluargaannya, beliau memperlakukan wanita itu dengan penghormatan
yang besar dan sebagai hasil dari perantaraannya beliau membatalkan
semua hukuman yang tadinya akan dijatuhkan atas wanita itu sebagai
tindak balasan terhadap serangan mereka .
Sedemikian agung dan indahnya Akhlaq Muhammad Rasulullah saw, sebagai
hamba teladan umat manusia yang hidup sezaman dengan beliau maupun
umat manusia yang hidup sesudahnya hingga hari Qiamat, karena itu hanya
ada satu syahadat pada beliau saja yang disyari’atkan dalam agama dan
wajib diikrarkan oleh setiap orang yang masuk ke dalam agama Islam,
sebagai tekad untuk mengawali dalam mengikuti dan meneladani kehidupan
beliau. Adapun jaminan bagi orang yang telah mengikrarkan syahadat itu
adalah sorga, sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut:
Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah Yang Esa yang tiada sekutu
bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya,
maka tiada seorang pun yang bertemu dengan kedua kalimah syahadat itu
pada Hari Qiamat, kecuali ia dimasukkan kedalam sorga karena apa yang
ada di dalamnya
Mukjizat
Seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad pun diberikan mukjizat
sebelum masa kenabian dan selama kenabian. Dalam syariat Islam, mukjizat
terbesar Muhammad adalah Al-Qur’an. Selain itu, Muhammad juga diyakini
oleh umat Islam pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam di
Mekkah dan melakukan Isra dan Mi’raj dalam waktu tidak sampai satu hari.
Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasannya mengenai
ilmu ketauhidan.
Fisik dan ciri-ciri Muhammad
Aisyah dan Ali bin Abi Thalib telah merincikan ciri-ciri fisik dan
penampilan keseharian Muhammad, diantaranya adalah rambut ikal berwarna
sedikit kemerahan,terurai hingga bahu. Kulitnya putih kemerah-merahan,
wajahnya cenderung bulat dengan sepasang matanya hitam dan bulu mata
yang panjang. Tidak berkumis dan berjanggut sepanjang sekepalan telapak
tangannya.
Tulang kepala besar dan bahunya lebar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi
dan tidak pula terlalu pendek, berpostur kekar sangat indah dan pas
dikalangan kaumnya. Bulu badannya halus memanjang dari pusar hingga
dada. Jemari tangan dan kaki tebal dan lentik memanjang.
[31]
Apabila berjalan cenderung cepat dan tidak pernah menancapkan kedua
telapak kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila
menoleh, ia menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara
kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan memang ia adalah penutup para
nabi. Ia adalah orang yang paling dermawan, paling berlapang dada,
paling jujur ucapannya, paling bertanggung jawab dan paling baik
pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya.
Setiap orang yang bertemu Muhammad pasti akan berkata, “Aku tidak
pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya.”
Begitulah Muhammad di mata khalayak, sebab ia berakhlak sangat mulia
seperti yang digambarkan Al-Qur’an,
| “ |
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Al-Qalam: 4) |
” |
Dalam hadits riwayat Bukhari, Muhammad digambarkan sebagai orang yang berkulit putih dan berjenggot hitam dengan uban.
Dalam satu hadits diterangkan mengenai corak fisik Rasulullah, yaitu:
Anas bin Malik (ra) meriwayatkan: Rasulullah saw. bertubuh sedang,
bercorak kulit cerah, tidak putih sekali namun tidak pula hitam benar.
Rambut beliau dapat dikatakan lurus dan agak berombak. Allah Ta’ala
mengangkat beliau sebagai Nabi ketika berusia empat puluh tahun. Sesudah
itu beliau sempat tinggal di Mekah selama tiga belas tahun. Lalu di
Madinah selama sepuluh tahun. Allah memanggil beliau ke hadirat-Nya pada
umur enam puluh tiga tahun. Saat itu baru sedikit saja uban yang
tumbuh di rambut dan janggut beliau.
Anas (ra) juga meriwayatkan: Rasulullah (saw) tingginya sedang; tidak
tinggi benar maupun pendek; beliau tegap. Rambut beliau tidak
keritingnamun tidak pula lurus sama sekali. Warna kulit beliau sedang,
tapi cerah. beliau berjalan dengan gesit. Melangkah dengan tubuh sedikit
condong ke depan.
Bara’a bin Aazib (ra) meriwayatkan: Rasulullah (saw) tingginya
sedang, dengan tulang belikat (pundak) yang bidang. Rambut beliau cukup
tebal, panjangnya sampai batas telinga. Saya belum pernah melihat
sesuatu yang lebih menarik dari beliau
Ali Bin Abi Thalib (ra) meriwayatkan: Rasulullah (saw) tidaklah
tinggi; juga tidak pendek. Telapak tangan dan kaki beliau padat berisi.
Beliau memiliki kepala yang agak besar dan kuat. Bulu-bulu halus tumbuh
di dada beliau dan terus kebawah sampai pusar. Jika beliau berjalan,
melangkahnya seolah-olah seperti turun (meloncat) dari suatu ketinggian.
Saya belum pernah melihat beliau diantara sahabat-sahabatnya, dan dari
antara orang-orang yang datang sesudah (wafatnya) beliau.
Ali bin Abi Thalib (ra) juga meriwayatkan: Rambut Rasulullah lurus
dan sedikit berombak. Beliau tidak berperawakan gemuk dan tidak pula
tampak terlalu berat, beliau berperawakan baik dan tegak. Warna kulit
beliau cerah, mata beliau hitam dengan bulu mata yang panjang.
Sendi-sendi tulang beliau kuat dan dada beliau cukup kekar, demikian
pula tangan dan kaki beliau. Badan beliau tidak berbulu tebal, tapi
hanya bulu-bulu tipis dari dada ke bawah sampai di pusar beliau. Jika
beliau sedang berhadapan dengan seseorang, maka beliau akan mengarahkan
wajah beliau ke orang tersebut (penuh perhatian). Diantara tulang
belikat beliau “tanda” kenabian beliau. Beliau adalah orang yang paling
baik hati, orang yang paling jujur, orang yang paling dirindukan dan
sebaik-baik keturunan. Siapa saja yang mendekati beliau akan langsung
merasa hormat dan khidmat. Dan siapa yang bergaul dengan beliau akan
langsung menghargai dan mencintainya. Saya belum pernah meliahat orang
lain seperti beliau.
Hind bin Abi Halah (ra) telah diceritakan oleh Hasan bin Ali (ra)
sebagai berikut: Rasulullah (saw) memiliki pribadi mulia dan diakui
sangat agung dalam pandangan orang yang melihatnya. Wajah beliau
bercahaya seterang bulan purnama. Beliau sedikit lebih tinggi dari
rata-rata kami tapi lebih pendek dari orang yang jangkung. Kepala beliau
lebih besar dari rata-rata, dan rambut beliau agak keriting
(berombak). Jika dapat dikuakan (dibelah), maka beliau kuakan, Jika
tidak dapat maka beliau biarkan saja. Saat rambut beliau agak panjang,
akan mencapai kuping telinga beliau. Kulit beliau berwarna cerah dan
dahi beliau lebar. Alis mata beliau lengkung hitam dan tebal. dianta
alisnya nampak urat darah halus yang berdenyut bila beliau emosi atau
bergairah. Hidung beliau agak melengkung dan mengkilap jika terkena
cahaya serta tampak agak menonjol jika kita pertama kali melihatnya,
padahal tidak demikian sebenarnya. Beliau berjanggut tipis tapi penuh
rata sampai di pipi. Mulut beliau sedang, gigi beliau putih cemerlang
dan agak renggang. Pundak beliau bagus dan terpasang kokoh, seperti di
cor dengan perak. Anggota tubuh beliau yang lain serba normal dan
proporsional. Dada dan pinggang beliau seimbang ukurannya. Daerah di
sekitar tulang belikat beliau cukup lebar, dan terpasang dengan baik.
Bagian-bagian tubuh beliau yang tidak tertutuppun nampak bersih dan
bercahaya. Kecuali bulu-bulu halus yang tumbuh dari dada dan tumbuh
sampai ke pusar. Lengan dan dada bagian atas beliau berbulu.
Pergelangan tangan beliau cukup panjang, telapak tangan beliau agak
lebar serta baik telapak tangan maupun kaki beliau padat berisi,
jari-jari tangan dan kaki beliau cukup langsing. Telapak kaki beliau
cukup lengkungannya dan atasnya halus serta bagus bentuknya, sehingga
saat beliau mencucinya, maka air akan meluncur dengan cepat ke bawah.
Jika beliau berjalan, beliau melangkah dengan posisi badan agak condong
ke depan, tapi beliau melangkah dengan anggun. Langkah beliau panjang
dan cepat serta terlihatseperti turun (loncat) dari suatu ketinggian.
Jika beliau sedang berhadapan dengan seseorang, maka beliau memandang
orang itu dengan penuh perhatian. Pandangan beliau selalu ditundukkan
sesuai aturan (dalam Alquran), dan lebih sering melihat ke bawah dari
pada ke atas. Beliau tidak pernah memelototi seseorang, pandangan mata
beliau selalu menyejukkan. Beliau juga selalu berjalan agak di
belakang, terutama saat melakukan perjalanan jauhdan beliau selalu
lebih dulu menyapa orang yang ditemuinya di jalan.
Jabir bin Samurah (ra) meriwayatkan: Rasulullah (saw) memiliki mulut
yang agak lebar, di mata beliau terlihat juga garis-garis merahnya. Dan
tumit beliau langsing.
Jabir (ra) juga meriwayatkan: Saya berkesempatan melihat Rasulullah
(saw) di bawah sinar rembulan, san (saya) perhatikan pula rembulan
tersebut, bagi saya beliau lebih indah dari rembulan tersebut.
Abu Ishaq (ra) mengemukakan: Bara’a bin Aazib (ra) pernah ditanya,
“Apakah rona wajah Rasulullah (saw) cemerlang seperti pedang yang
mengkilap?” Ia menjawab “Tidak! tapi lebih mirip dengan purnama yang
cerah.”
Abu Hurairah (ra) mengemukakan: Rasulullah begitu rupawan, seperti
beliau dibentuk dari perak. Rambut beliau cenderung berombak.
Abu Hurairah (ra) juga meriwayatkan: Saya belum pernah melihat orang
yang lebih baik dan lebih tampan dari Rasulullah (saw); roman mukanya
secemerlang matahari, juga tidak pernah melihat orang yang secepat
beliau. Seolah-olah bumi ini digulung oleh langkah-langkah beliau ketika
sedang berjalan. Walaupun kami berusaha untuk mengimbangi jalan
beliau. Tapi beliau tampaknya seperti berjalan santai saja.
Jabir bin Abdullah (ra) meriwayatkan, Rasulullah (saw) pernah
bersabda: Aku menyaksikan pemandangan (rohani) tentang para nabi.
Diantaranya, Musa (as). Beliau (Musa as) berperawakan langsing seperti
orang-orang dari suku Shannah; dan aku menyaksikan Isa ibnu Maryam (as)
yang mirip dari antara orang yang pernah saya lihat, yaitu Urwah bin
Mas’ud (ra) dan aku melihat Ibrahim (as), beliau sangat mirip dengan
sahabatmu ini (maksudnya diri beliau sendiri), saya juga melihat
malaikat Jibril yang mirip dengan Dehya Kalbi”
Said al jahiri (ra) meriwayatkan: Saya pernah mendengar Abu Taufik
(ra) berkata: “Sekarang ini tidak ada lagi yang tinggal (masih hidup)
yang pernah melihat diri Rasulullah, kecuali saya.” Maka saya (Said ra)
berkata padanya: “Gambarkanlah kepadaku.” Ia menjawab, “Rasulullah
(saw) itu roman mukanya sangat cerah dan perawakannya sangat baik.
Ibnu Abbas mengatakan: Gigi depan Rasulullah (saw) agak renggang
(tidak terlalu rapat) dan jika beliau berbicara tampak putih berkilau.
Pernikahan
Selama hidupnya Muhammad menikahi 11 atau 13 orang wanita (terdapat
perbedaan pendapat mengenai hal ini). Pada umur 25 Tahun ia menikah
dengan Khadijah, yang berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat.
Pernikahan ini digambarkan sangat bahagia, sehingga saat meninggalnya
Khadijah (yang bersamaan dengan tahun meninggalnya Abu Thalib pamannya)
disebut sebagai tahun kesedihan.
Sepeninggal Khadijah, Muhammad disarankan oleh Khawla binti Hakim,
bahwa sebaiknya ia menikahi Sawda binti Zama (seorang janda) atau Aisyah
(putri Abu Bakar, dimana Muhammad akhirnya menikahi keduanya. Kemudian
setelah itu Muhammad tercatat menikahi beberapa wanita lagi sehingga
mencapai total sebelas orang, dimana sembilan diantaranya masih hidup
sepeninggal Muhammad.
Para ahli sejarah antara lain Watt dan Esposito berpendapat bahwa
sebagian besar perkawinan itu dimaksudkan untuk memperkuat ikatan
politik (sesuai dengan budaya Arab), atau memberikan penghidupan bagi
para janda (saat itu janda lebih susah untuk menikah karena budaya yang
menekankan perkawinan dengan perawan).
Perbedaan dengan nabi dan rasul terdahulu
Dalam mengemban misi dakwahnya, umat Islam percaya bahwa Muhammad
diutus Allah untuk menjadi Nabi bagi seluruh umat manusia (QS. 34 : 28),
sedangkan nabi dan rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya
masing-masing (QS 10:47, 23:44) seperti halnya Nabi Musa yang diutus
Allah kepada kaum Bani Israil.
Sedangkan persamaannya dengan nabi dan rasul sebelumnya ialah
sama-sama mengajarkan Tauhid, yaitu kesaksian bahwa Tuhan yang berhak
disembah atau diibadahi itu hanyalah Allah (QS 21:25).
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali
penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk
Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad
untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa,
yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun,
Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu
kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada
kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia
mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya
pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin
onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke
Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia
ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan
Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di
Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat
memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang
sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad
bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan
Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada
pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah
tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal
cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat
tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif
seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit
yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan
senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu
sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan
yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang
pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan
Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan
penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah
timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di
baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan
Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu
menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara
semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria,
dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran
Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam
pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend
tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran –di bawah pimpinan sahabat Nabi dan
penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab– itu tidak menunjukkan
tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah
menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ
mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak
kerajaan Visigothic di Spanyol.

Peta Kekuasaan Kerajaan Islam sekitar 632-740
Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis
semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang
masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke
pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank.
Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang
Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah
mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga
pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar
yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan
dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan
berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.
Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen.
Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam,
merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah
melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai
kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir
dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab
seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja,
menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah
taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia
Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di
Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di
anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi
sebab utama terjadinya perpecahan.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah
ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh
luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa
penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku
ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali
lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda
tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari
Nabi Isa
dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama,
Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam
ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa
bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen
(sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme),
St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi
Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya.
Tambahan pula dia “pencatat” Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada
Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian
terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama
Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak
tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian
berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta
ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak
ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa
yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum
Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani,
pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya.
Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa
dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari
semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa
dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata
pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku
kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab,
pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan
sepanjang waktu.
Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa
terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai
mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa
membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak
pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan
yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad
dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan
berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan
dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat
pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya
ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan
kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol
hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan
oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai
bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi
juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral
Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab,
besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak
terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak,
boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian
Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya
memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu
jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud.
Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk
Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap
embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 – 1974. Sebaliknya
bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara
Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab
di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia
hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak
terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada
pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti
pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.