Tampilkan postingan dengan label canda para Arifin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label canda para Arifin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2011

Bertani di Syurga

Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berbicara dengan seorang lelaki dari desa. Rasulullah s.a.w. menceritakan bahawa ada seorang lelaki penghuni syurga meminta kepada Allah s.w.t. untuk bercocok tanam, kemudian Allah s.w.t. bertanya kepadanya bukankah Allah s.w.t. telah berikan semua perkara yang dia perlukan? Lelaki itu mengakui, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia menabur biji benih. Tanaman itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung. Allah s.w.t. berfirman kepadanya, "Wahai anak Adam, ia tidak mengenyangkan perut kamu".

"Demi Allah, orang itu adalah orang Quraisy atau pun Anshar kerana mereka dari golongan petani. Kami bukan dari golongan petani", kata orang Badui itu. Rasulullah s.a.w. tertawa mendengar kata-kata orang Badui itu.

Senin, 15 November 2010

Kuda dan keteguhan pendirian


Kuda Musa makin lama makin kurus dan sakit. Istri Musa sudah cerewet sekali menyuruh agar segera dijual saja. Tapi Musa sendiri begitu sayang kepada kuda yang telah banyak jasanya itu. Namun akhirnya luluh juga hatinya setelah kuda itu kelihatan sangat lemah dan sakit-sakitan.

Pada suatu pagi, berangkatlah suami istri itu menuju pasar. Mereka menuntun kudanya bergantian. Lantaran jarak dari rumahnya ke pasar di Kota Basrah cukup jauh, Musa yang kurus, sudah terengah-engah napasnya. Bahkan terdengar bunyi ‘ngik-ngik’ dari hidungnya. Sementara istrinya,  karena badannya yang sangat tambun hampir saja jatuh pingsan karena penat.

Dalam keadaan seperti itu, beberapa orang kampung lewat dan memandangi mereka dengan kasihan. Salah seorang dari mereka bertanya. ‘’Mau dibawa ke mana kuda itu?”. Musa menjawab. ‘’Ke Basrah.”

‘’Itu kuda hidup atau kuda mati?’’ Mendengar itu, Musa heran. ‘’Tidak kalian lihat kuda ini masih bisa jalan?’’. ‘’Kalau kuda hidup mengapa dituntun? Mestinya kan dinaiki saja bergantian, biar tidak capek!’’
Musa dan istrinya berhenti, lalu berpikir. ‘’Betul juga,’’ ujarnya. Maka Musa menyuruh istrinya menaiki kuda itu, dia yang menuntun dari depan.

Baru beberapa meter mereka berjalan, muncul lagi tiga orang kampung yang datang dari kebun. Mereka geleng-geleng kepala sambil bergumam. “Huh, dasar istri tak tau diri. Mana baktinya kepada suami yang kurus begitu? Dia yang gemuk macam genderang Persi, enak-enak saja duduk. Sedangkan suaminya yang kurus kering dibiarkan mati kepenatan. Durhaka.’’

Mendengar omongan orang-orang kampung, istri Musa segera turun. ‘’Bang, engkau saja yang naik, biar aku saja yang jalan,’’ kata istrinya. Musa kegirangan. Memang dia sudah kelelahan. Dengan cepat dinaikinya kuda itu dan giliran si istri menuntun dari depan.

Belum sempat hilang penatnya, lewat lagi beberapa orang kampung. Laki-laki yang tua berkata. ‘’Huh, suami keparat. Istrinya yang jalannya mengengsot seperti siput laut disuruh menuntun kuda. Sementara dia ongkang-ongkang kaki di atasnya. Barangkali di rumahnya jadi raja, raja terhadap istrinya.’’

Musa sambil menunduk, mendengarkan ocehan orang-orang itu. Begitu mereka sudah berlalu, dia turun dan kebingungan. ‘’Kenapa serba salah? Jadi harus bagaimana? Ah, ya, kita naiki saja berdua,’’ ujar Musa pada istrinya. Dengan gembira suami-istri itu naik bersama-sama ke atas punggung kuda. ‘’Rasanya aman sudah sekarang,’’ ujarnya.

Namun tiba-tiba mereka terkejut mendengar bentakan hebat. ‘’Hai, manusia kejam! Itu kuda kan sudah hampir mampus. Jalan sendiri saja tidak kuat. Dia, kan juga makhluk Allah. Kalian ini manusia, punya akal dan perasaan. Di mana kau taruh ibamu, manusia kejam?’’

Musa melihat, yang membentak itu adalah seorang pembesar negeri. Maka cepat-cepat mereka turun. Dipandanginya kuda itu. Betul juga kalau hampir mati. Tapi bagaimana caranya membawa ke pasar Basrah? Dituntun salah, dinaiki sendiri dimarahi orang, istrinya yang naik kurang ajar, dinaiki berdua jadi kejam. Lantas bagaimana?

Memandangi suaminya sedang kebingungan, istri Musa lalu memberi saran. ‘’Kita gotong saja Bang.’’ Ah. Betul,’’ seru Musa kegirangan. ‘’Engkau memang pintar, Halimah,’’ kata Musa.

Maka kuda itu pun akhirnya diikat pada sebatang kayu, dan digotong ke pasar Basrah. Menjelang masuk pintu kota, lewat beberapa orang pedagang. Dengan bengong mereka menyaksikan suami-istri menggotong seekor kuda. ‘’Kelihatannya kuda itu masih cukup sehat,’’ ujar salah seorang pedagang kepada temannya. Kemudian orang itu menyapa Musa. ‘’Kuda itu sudah lumpuh?’’ Mendengar yang bertanya itu pedagang, Musa buru-buru menyangkal. '‘Tidak, kuda ini masih kuat lari.'’

‘’Masih kuat lari? Aneh. Kuda masih kuat lari digotong-gotong seperti itu. Dasar dunia sudah terbalik. Mengapa tidak dituntun saja, sehingga bapak dan ibu tidak capek seperti itu? Huh dasar kurang waras.’’

Habis kesabaran Musa dan istrinya. Selalu salah saja yang ditemuinya sepanjang jalan. Maka dilemparkannya kuda itu ke pinggir jalan, dan mereka pulang dengan sia-sia. Itulah keputusan yang diambilnya, keputusan paling bodoh akibat tidak percaya kepada pendiriannya sendiri.

Karena itu, kalau mempunyai suatu niat, perbuatlah dengan segera, asalkan tidak bertentangan dengan syariat agama. Jangan terombang-ambing karena omongan orang. Kerjakan sampai selesai, sampai tercapai cita-cita.


Doa Sapu Jagat...


Rasanya tidak ada orang yang lebih bodoh ketimbang lelaki separuh baya yang dipanggil si Dungu ini. Sebab dia dikenal bebal, namun tidak menyadari kebebalannya. Dia tidak mau menambah ilmu dengan mengaji untuk mengurangi kebodohannya.

Saking sok taatnya kepada imam dalam salat jamaah, dia ikut menggaruk-garuk kepalanya tatkala kepala imam gatal dan sang imam menggaruk-garuknya. Malah tiap kali imam berdeham karena suaranya serak, si Dungu juga ikut-ikutan berdeham.

Suatu ketika pada salat Jumat di masjid kampungnya, seorang khatib berjanggut lebat dan sudah berwarna putih seluruhnya, menaiki mimbar. Khutbahnya amat menarik dan membuat para jamaah sangat terharu. Bahkan si Dungu sempat menangis terguguk-guguk.

Khatib berjenggot itu melihat betul keadaan di Dungu yang tidak henti-hentinya mengucurkan air mata. Khatib itu amat bangga, sekaligus iba. Maka sesudah selesai salat Jumat, Khatib berjanggut putih itu sengaja mendatangi si Dungu, lantas bertanya, "Apakah khutbah saya cukup menarik?" tanya sang Khatib. "Oh, menarik sekali," jawab si Dungu, sungguh meyakinkan betul sikap sok takwanya.

"Pendapat Bapak, bagian manakah yang paling bagus hingga Bapak menangis tersedu-sedu?”  Si Dungu menjawab, "Janggut putih Tuan yang mengharukan saya," jawabnya enteng.
Mendengar jawaban itu, Khatib keheranan, lantas bertanya lagi, "Apa maksud Bapak?"

"Melihat janggut putih Tuan, saya teringat seekor kambing saya yang dicuri beberapa waktu lalu. Janggut Tuan persis betul dengan janggut kambing saya yang hilang itu."

Tentu saja, Tuan Khatib amat mendongkol. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa karena si Dungu langsung menangis lagi dengan sedihnya.

Menariknya, walaupun dungu, hidupnya berkecukupam dan royal. Istrinya  dua, satunya masih muda belia. Namanya Hasanah. Sedang istri pertamanya gembrot dan pesek, namanya Jamilah, yang artinya cantik jelita.
Tahun lalu, si Dungu berangkat haji bersama kedua istrinya. Dia bertanya kepada seorang ustad, "Apa yang harus saya baca, ketika melakukan haji? Saya tidak bisa menghafal yang susah-susah. Ustad itu menjawab, "Jangan bingung. Baca saja doa sapu jagat," ujarnya singkat.

Itulah yang kemudian dikerjakan oleh si Dungu pada waktu menjalankan thawaf dan sa’i. Bahkan saking "khusuk”-nya, sampai-sampai sepanjang thawaf di Pasar Seng untuk berbelanja pun dia selalu membaca doa sapu jagat yang bunyinya, "Rabbana atina fid dunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘azabannar."

Akan tetapi, lama-kelamaan istri tuanya yang bernama Jamilah tidak kuat lagi menahan kemarahannya. Sambil mencubit keras-keras pinggang suaminya, dia menghardik, "Kamu memang tak tahu di untung. Aku ini binimu, yang sungsang sumbal membantumu mencari rezeki sampai memperoleh kekayaan yang cukup banyak. 

Tapi, dari tadi yang kamu sebut-sebut dalam doamu hanya Hasanah melulu, istri mudamu yang cantik itu. Awas, kalau aku tidak kamu panggil-panggil juga, pulang ke rumah nanti, semua harta kekayaannku akan kuambil, dan ceraikan aku saat itu juga," ancam Jamilah.

Si Dungu merah padam. Dia merasa bersalah. Jamilah, istri tuanya memang  sebenarnya yang kaya-raya. Dia hanya menumpang belaka. Maka dengan serta-merta minta maaf. "Baiklah, mulai detik ini doaku akan kuubah."

Akibatnya, seluruh jamaah haji terbelalak keheranan mendengar doa si Dungu yang dibaca berulang-ulang itu. Karena doa itu berbunyi, "Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati jamilah, waqina azabannar."

Barangkali kisah ini hanya desas-desus semata-mata, mengingat si Dungu terkenal keras kepala, tidak mau bergabung dalam kegiatan kemasyarakatan. Apalagi menghadiri ceramah agama atau pun pengajian. (dikutip dari 30 Kisah Teladan, karangan KH Abdurrahman Arroisi)


Kamis, 11 November 2010

Bahlul dan Tahta Raja

Bahlul, si tolol yang bijaksana, sering menyembunyikan kecendekiaannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya.

Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk ke dalam kejahatan berat dan boleh dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya.


Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, tak usah menangis.

Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!”

“Kau mengasihaniku?” Harun mengherdik, “Mengapa engkau harus menangisiku?” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras.

Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang…

Kamis, 04 November 2010

Kakek Tua dan Wali Allah


Cerita berikut adalah cerita Tasawufan, hanya sebuah anekdot sufi tentu saja tidak harus ditanggapi secara serius dan jika ada hal-hal kurang berkenan dalam cerita itu jangan terlalu serius ditanggapi anggap saja ini hanya sebuah cerita belaka.

Di sebuah Desa di daerah Sumatera tinggallah orang tua yang telah berumur 70 tahun. Sewaktu muda dia sangat rajin beribadah, namun ketika sudah tua mulai malas-malasan bahkan tidak pernah lagi melaksanakan shalat juga ibadah-ibadah lain.

Suatu hari ada seorang Wali Allah datang kekampungnya memberikan ceramah, kakek tua tadi ikut mendengarkan ceramah Wali tersebut. Tentu saja ceramah seorang Wali Allah berisi hakikat dan ajakan untuk memperbanyak ibadah sebagai persiapan ketika akan meninggal dunia.
Sang Wali Allah berkata,

“Hai Manusia-manusia, sadarlah bahwa umur kita ini semakin lama semakin berkurang dan tidak ada manusia yang bisa menolak kematian. Amal perbuatan anda akan diperhitungkan, kalau lebih banyak buruk dari pada baik maka anda akan dimasukkan ke dalam neraka. Neraka itu sangat panas, 7 kilometer saja jarak dari neraka maka otak anda akan mendidih. Karena itu sadarlah, segeralah bertaubat, perbanyaklah ibadah dan carilah orang yang makbul do’anya agar mendo’akan saudara-saudara sekalian. Do’a seorang Wali itu pasti dimakbulkan Tuhan karena Wali Allah itu adalah kekasih Allah”.

Begitulah Wali Allah memberikan ceramah kepada warga kampung tersebut. Mendengar ceramah  Wali Allah, kakek tua siang malam tidak bisa tidur, dia sangat takut akan siksa neraka. Kesalahan-kesalahan masa lalu setiap saat terbanyang dan sangat mengganggu. Dia ingat akan petuah Wali Allah bahwa bersedekah dan meminta do’a kepada Wali Allah itu adalah ibadah tinggi dan do’a Wali sangat dimakbulkan Tuhan.

Kakek tua bukanlah seorang yang  kaya, hidupnya pas-pasan, satu-satu nya harta berharga yang dia miliki adalah seekor kambing jantan. Dia ingin sekali memberikan kambing miliknya kepada Wali Allah akan tetapi tempat tinggal Wali Allah itu sangat jauh dari rumahnya (lebih kurang 100 km).
Akhirnya dileher kambing itu dituliskan sebuah pesan :

KAMBING UNTUK WALI ALLAH
TOLONG YA WALI ALLAH DO’AKAN SAYA AGAR MASUK SURGA, DI EMPERAN SURGA PUN TAK APALAH ASAL JANGAN DI NERAKA. KONON KABARNYA NERAKA ITU PANAS SEKALI, TOLONG YA  WALI ALLAH DO’AKAN SAYA.
DARI
KEKEK TUA BIN KAKEK SANGAT TUA

Kemudian kakek tua menuntun kambing dengan berjalan kaki sejauh 8 km dan dilepas begitu saja dan kakek itu pulang kerumahnya. Kambing itu dilihat oleh seorang anak muda dan membaca tulisan itu dan menuntun juga sejauh 8 km. Demikianlah sambung menyambung akhirnya kambing itu sampai kepada Wali Allah.

Wali Allah membaca tulisan di leher kambing, kemudian Beliau mendo’akan orang tua itu agar masuk surga.
Dua bulan kemudian meninggallah orang tua itu dan dikuburkan oleh penduduk kampung. Orang sekampung dibuat geger karena orang tua yang tidak pernah shalat meninggalnya dalam keadaan tersenyum.

Setelah yang mengantar jenazah pulang, di dalam kubur kakek tua didatangi oleh Malaikat Munkar Nankir. Kakek tua melihat malaikat itu dengan heran dan dalam hati berbisik, “Rasa nya aku kenal dengan orang ini”. Belum sempat kakek tua beramah tamah dengan kedua Malaikat, langsung  Malaikat bertanya dengan suara membentak:
“Maa Rabbuka!”

Kakek tua terkejut, tentu saja dia bingung dengan ucapan malaikat karena dia tidak mengerti sama sekali bahasa Arab, “Jangan lah kau bentak-bentak aku, aku tak paham dengan yang kau cakapkan itu, semuanya sudah aku serah kepada Wali Allah”
Malaikat melanjutkan bertanya masih dengan suara membentak, 

“Wa Maa Nabiyyuka!”
Dengan kesal Kekek Tua juga menjawab dengan membentak pula, “Kenapa kau memaksa, aku tak paham yang kau cakapkan itu, semuanya sudah aku serahkan kepada Wali Allah!”
Malaikat tidak memperdulikan jawaban kakek tua dan tetap melanjutkan pertanyaan dengan suara yang lebih keras
“Wa Maa Qiblatuka!”

Dengan marah kakek tua bangkit, “Tak kau hargai aku ya, ku tinju kau nanti!” sambil mangacungkan tinjunya. Kedua malaikat sangat ketakutan dan lari terbirit-birit dan melapor kepada Allah.

“Ya Allah, ada manusia ganjil di kuburan sana”
“Manusia ganjil bagaimana?” tanya Allah
“Setiap pertanyaan kami selalu jawabannya, sudah diserahkan kepada Wali Allah dan ketika kami mengajukan pertanyaan ke-3 dia marah dan kami mau di tinju nya”

“Hebat orang itu berani meninju malaikat, coba kalian bawa buku catatan amalannya”
Malaikat membawa buku catatan kakek tua kehadapan Allah dan ketika Allah membuka buku tersebut dengan senyum-senyum berkata, “Oh kalau yang ini nggak usah kalian urus, ini urusan Aku, buka aja pintu surga, masukkan dia kedalam surga”

Selesai