Sabtu, 01 Oktober 2011

hakikat haji



Abdullah bin Mubarak menceritakan sewaktu beliau tertidur di Masjidil Haram, beliau melihat dua malaikat turun dari langit. Berkata salah seorang darinya, “Berapa jumlah orang yang menunaikan haji tahun ini?” Jawab yang disebelahnya, “600,000 orang.”

“Di antara mereka berapakah yang diterima hajinya?” Jawab malaikat kedua, “Di antara mereka, hanya seorang saja. Namanya Muwaffaq, dia tinggal di Damsyik, pekerjaannya sebagai tukang sepatu, dia tidak dapat berhaji, tetapi hajinya diterima oleh Allah,” Bila tersadar dari tidur, Abdullah segera berangkat ke Damsyik untuk mencari lelaki ini.

Setelah bertemu, Abdullah pun bertanya, “Terangkan padaku, apakah amalanmu sehingga mencapai derajat yang tinggi?” Jawab Muwaffaq, “Dengan rahmat Allah, aku telah mengumpulkan uang sebanyak 300 dirham yang aku simpankannya untuk mengerjakan haji pada tahun ini. Wwaktu itu, isteriku sedang hamil dan dia telah tercium sesuatu dari rumah jiran dan dia menyuruhku memintanya sedikit karena mengidam.

Aku pun mendapatkan jiranku itu. Berkata jiranku kepadaku, “Aku terpaksa memberitahumu satu perkara, anak-anakku sudah tiga hari tidak makan.”

Sewaktu aku keluar mencari makanan, aku terjumpa bangkai keledai lalu aku potong sebagian dagingnya lalu aku masak, maka makanan ini halal bagi kami tetapi haram bagimu.

Mendengarkan kata-kata wanita ini, aku segera pulang ke rumah dan mengambil uang 300 dirham itu lalu aku berikan padanya. Aku berkata kepada diriku, “hajiku hanya di pintu rumah jiranku.” Hanya itulah saja amalanku.

Demikianlah besarnya rahmat Allah kepada hambanya, sesungguhnya Allah tidak memandang pada harga yang kita ada tetapi niat yang ikhlas lagi suci.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar